|
NAMA
: JANUAR ASGID LIISE
NIM
: 12071056
KELAS
: A2 / VII

FAKULTAS
KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
PEMBANGUNAN INDONESIA
MANADO
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur,
hormat dan kemuliaan Kami panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan
anugrah-Nya yang selalu menyertai sehingga Penulis bisa menyelesaikan Asuhan
keperawatan Cedera Kepala.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan asuhan keperawatan cedera kepala ini banyak
kekurangan. Dengan penuh kerendahan hati Penulis mempersembahkan asuhan
keperawatan cedera kepala ini, dan berharap asuhan keperawatan cedera kepala
ini dapat membantu pendidikan di masa yang akan datang.
Akhir
kata Penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan asuhan keperawatan cedera kepala ini.
Semoga
asuhan keperawatan cedera kepala ini dapat berguna dan bermanfaat,khususnya
untuk dimasa yang akan datang dan semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat
dan Karunia-Nya serta petunjuk kepada kita semua.
Manado,
November 2015
Penulis
i
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………………………………………i
Daftar
Isi……………………………………………………………………………………….ii
Bab I
Pendahuluan……………………………………………………………………………..1
A.
Latar Belakang…………………………………………………………………………1
B.
Rumusan Masalah……………………………………………………………………...1
Bab II
Pembahasan……………………………………………………………………………..3
A.
Definisi cedera kepala………………………………………………………………….3
B.
Etiologi cedera kepala………………………………………………………………….3
C.
Klisifikasi cedera kepala……………………………………………………………….4
D.
Patofisiologi cedera kepala…………………………………………………………….5
E.
Manifestasi klinis cedera kepala……………………………………………………….6
F.
Komplikasi cedera kepala……………………………………………………………...8
G.
Pemeriksaan penunjang cedera kepala…………………………………………………11
H.
Penatalaksanaan cedera kepala…………………………………………………………11
Bab III ASKEP Cedera
Kepala…………………………………………………………………16
Bab IV Penutup…………………………………………………………………………………26
A.
Kesimpulan……………………………………………………………………………..26
B.
Saran ……………………………………………………………………………………27
Daftar
Pustaka…………………………………………………………………………………..28
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian utama pada
kelompok umur produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu
lintas. Tidak hanya berakibat pada tingginya angka kematian pada korban
kecelakaan. Justru, yang harus menjadi perhatian adalah banyaknya kasus
kecacatan dari korban kecelakaan. Khususnya, korban kecelakaan yang menderita
cedera kepala.
Menurut paparan dr Andre Kusuma SpBS dari SMF Bedah Saraf RSD dr
Soebandi Jember, cedera kepala adalah proses patologis pada jaringan otak yang
bersifat non- degenerative, non-congenital, dilihat dari keselamatan mekanis
dari luar, yang mungkin menyebabkan gangguan fungsi kognitif, fisik, dan
psikososial yang sifatnya menetap maupun sementara dan disertai hilangnya atau
berubahnya tingkat kesadaran.Dari definisi itu saja, kita sudah tahu bahwa
cedera kepala sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan segera demi
keselamatan penderita. Sayangnya, kendati kasus terus meningkat, namun masih
banyak pihak yang belum sadar pentingnya kecepatan menolong penderita.
Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi
korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat
sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya ( Mansjoer, 2000 ).
B.
Rumusan
masalah
1. Apakah yang dimaksud
dengan Cidera Kepala?
2. Bagaimanakah etiologi Cidera
Kepala?
3. Apa saja
klasifikasi Cidera Kepala?
4. Bagaimanakah patofisiologi Cidera
Kepala?
5. Apakah manifestasi klinis Cidera
Kepala?
6. Apa
saja komplikasi Cidera Kepala?
7. Bagaimanakah pemeriksaan
penunjang Cidera Kepala?
8. Bagaimanakah penatalaksanaan Cidera
Kepala?
9. Bagaimanakah asuhan
keperawatan pada paien Cidera Kepala?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
cedera kepala
ü Cedera kepala adalah
trauma yang mengenai kulit kepala, tengkorak, dan otak yang disebabkan oleh
trauma tumpul atau trauma tembus ( Mansjoer, 2000; Brunner & Suddarth, 2002
)
ü Cedera kepala paling
sering dan penyakit neurologik yang serius di antara penyakit neurologik, dan
merupakan proporsi epidemik sebagai hasil dari kecelakaan jalan raya ( Brunner
& Suddarth, 2002 ).
ü Trauma atau cedera
kepala (brain injury) adalah salah satu bentuk trauma yang dapat
mengubah kemampuan otak dalam menghasilkan keseimbangan fisik, intelektual,
emosional, sosial dan pekerjaan atau dapat dikatakan sebagai bagian dari
gangguan traumatik yang dapat menimbulkan perubahan – perubahan fungsi otak (black,
2005).
ü Cidera kepala (terbuka dan tertutup) terdiri dari fraktur
tengkorak, commusio (gegar) serebri, contusio (memar) serebri, laserasi dan
perdarahan serebral yaitu diantaranya subdural, epidural, intraserebral, dan
batang otak (Doenges, 2000:270).
B.
Etiologi
cedera kepala
a)
Trauma oleh benda tajam
Menyebabkan
cedera setempat dan menimbulkan cedera lokal. Kerusakan
lokal meliputi Contusio serebral, hematom serebral, kerusakan otak sekunder
yang disebabkan perluasan masa lesi, pergeseran otak atau hernia.
b) Trauma
oleh benda tumpul dan menyebabkan
cedera menyeluruh (difusi)
Kerusakannya
menyebar secara luas dan terjadi dalam 4 bentuk : cedera akson,
kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multiple
pada otak koma terjadi karena cedera menyebar pada hemisfer cerebral, batang
otak atau kedua-duanya.
v Etiologi lainnya:
a.
Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan
mobil.
b. Kecelakaan pada saat
olah raga, anak dengan ketergantungan.
c. Cedera akibat kekerasan.
C.
Klisifikasi
cedera kepala
a)
Menurut Jenis Cedera
ü Cedera
Kepala terbuka
Dapat menyebabkan fraktur
pada tulang tengkorak dan jaringan otak
ü Cedera
kepala tertutup.
Dapat disamakan dengan
keluhan geger otak ringan dan oedem serebral yang luas.
b)
Menurut berat ringannya
berdasarkan GCS (Glosgow Coma Scale)
v Cedera Kepala ringan (kelompok risiko rendah)
§ GCS
13-15 (sadar penuh, atentif, orientatif)
§ Kehilangan
kesadaran /amnesia tetapi kurang 30 mnt
§ Tak ada fraktur
tengkorak
§ Tak
ada contusio serebral (hematom)
§ Tidak ada intoksikasi
alcohol atau obat terlarang
§ Pasien dapat mengeluh
nyeri kepala dan pusing.
§ Pasien
dapat menderita abrasi, laserasi, atau hematoma kulit kepala
§ Tidak
adanya criteria cedera sedang-berat
v Cedera kepala sedang
§ GCS
9-14 (konfusi, letargi, atau stupor)
§ Kehilangan kesadaran
lebih dari 30 mnt / kurang dari 24 jam (konkusi)
§ Dapat mengalami fraktur
tengkorak
§ Amnesia pasca trauma
§ Muntah
§ Kejang
v Cedera kepala berat
§ GCS 3-8 (koma)
§ Kehilangan kasadaran
lebih dari 24 jam (penurunan kesadaran progresif)
§ Diikuti
contusio serebri, laserasi, hematoma intracranial
§ Tanda neurologist fokal
§ Cedera
kepala penetrasi atau teraba fraktur kranium
c)
Menurut morfologi
v Fraktur tengkorak
§ Kranium:
linear/stelatum; depresi/non depresi; terbuka/tertutup
§ Basis: dengan/tanpa
kebocoran cairan serebrospinal, dengan/tanpa kelumpuhan nervus VII
§ Fokal:
epidural, subdural, intraserebral
§ Difus:
konkusi ringan, konkusi klasik, cedera aksonal difus
d)
Menurut patofisiologi
v Cedera kepala primer
Akibat langsung pada mekanisme dinamik
(acelerasi - decelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan.Pada
cedera primer dapat terjadi : Gegar kepala ringan, Memar otak dan Laserasi
v Cedera kepala sekunder
Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala,
seperti : Hipotensi sistemik, Hipoksia, Hiperkapnea, Udema otak, Komplikasi
pernapasan dan Infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain
D.
Patofisiologi
cedera kepala
Dalam keadaan normal otak mempunyai kemampuan
melakukan autoregulasi aliran darah serebral dan menjamin aliran daerah konstan
melalui pembuluh darah serebral. Faktor-faktor ini dapat mengubah kemampuan
pembuluh serebral untuk berkontraksi dan berdilatasi serta mengganggu
autoregulasi diantaranya trauma otak, iskemia dan hipoxia, pada klien dengan
kerusakan autoregulasi. Aktivitas yang dapat menyebabkan peningkatan
aliran darah serebral juga dapat meningkatkan TIK. Tekanan Intra Kranial (TIK)
merupakan tekanan yang dikeluarkan oleh kombinas dari 3 komplemen intrakranial
yaitu jaringan otak, CSS dan darah.
Hipotesa monro kellie mengatakan volume
intrakranial sama dengan volume otak ditambah volume darah serebral dan CSS,
dimana tiap perubahan volume dari tiap-tiap komponan karena gangguan kranial
dapat menyebabkan peningkatan TIK.Peningkatan TIK mengarah pada timbulnya
iskemia, kekakuan otak dan kemungkinan herniasi. Peningkatan TIK berkembang
pada hampir semua klien dengan lesi intra kranial setelah mengalmi cedera
kepala. Pada semua klien dengan cedera kepala bera, peningkatan TIK yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan kematian.
Defisit Nerurologik pada cedera kepala dimulai
dengan adanya trauma pada otak yang dapat menyebkan fragmentasi jaringan dna
contusio, merusakn sawar otak, diserbtai vasodilatasi dan eksudasi jaringan
sehingga timbul edema yang dapat menyebabkan peningkatan TIK. Keadaan ini dapat
menurunkan aliran daerah serebral, iskemia, hipoksia, asidosis dan kerusakan
sawar darah otak lebih lanjut dan terjadi kematian sel-sel otak dan edema
bertambah positif.Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi
kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan
dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan
terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan
menyebabkan asidosis metabolik.Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF)
adalah 50 - 60 ml / menit / 100 gr. Jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac
output.
Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi
jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan
udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T
dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia.Akibat adanya
perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan
vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi . Pengaruh
persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol
otak tidak begitu besar.
E.
Manifestasi
klinis cedera kepala
Adapun manifestasi klinis dari cedera kepala
adalah sebagai berikut :
1. Gangguan kesadaran
2. Konfusi
3. Abnormalitas pupil
4. Piwitan tiba-tiba
defisit neurologis
5. Perubahan TTV
6. Gangguan pergerakan
7. Gangguan penglihatan dan
pendengaran
8. Disfungsi sensori
9. Kejang otot
10. Sakit kepala
11. Vertigo
12. Kejang dan Pucat
13. Mual dan muntah
14. Pusing kepala
15. Terdapat hematoma
16. Kecemasan
17. Sukar untuk dibangunkan
18. Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal
yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur
tulang temporal.
v Akibat
Dari Trauma Otak Ini Tergantung Pada:
1)
Kekuatan benturan
ü Makin
besar benturan makin parah kerusakan
2)
Akselerasi / Deselerasi
ü Akselerasi
= Benda yang bergerak mengenai kepala yang diam
ü Desekrasi
= Kepala membentur benda diam
Keduanya bisa bersamaan
terjadi bila gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung.
3)
KUP dan Kontra
KUP
ü Cedera
KUP Kerusakan pada daerah dekat yang terbentur
ü Kontra
KUP Kerusakan cedera berlawanan pada sisi desakan benturan
4)
Lokasi Benturan
Bagi otak yang tersebar
kemungkinan cedera kepala terberat adalah bagian lotus anterior (Frontalis
& temporalis) Lobus posterior (oksipitalis dan atas mesenfalon).
5)
Rotasi
Pengubahan posisi rotasi
kepala menyebabkan trauma regangan & robekan pada substansia alba dan
batang otak.
6)
Fraktur Impresi
Disebabkan oleh suatu
kekuatan yang mendorong fragmen tulang turun menekan otak yang lebih dalam.
Akibat fraktur ini kemungkinan CSS akan mengalir ke hidung,
telinga kemudian masuknya kuman dan terkontaminasi dengan
CSS dapat menimbulkan infeksi dan kejang.
F.
Komplikasi
cedera kepala
1. Epilepsi Pasca Trauma
Epilepsi pasca trauma adalah suatu kelainan
dimana kejang terjadi beberapa waktu setelah otak mengalami cedera karena benturan
di kepala. Kejang bisa saja baru terjadi beberapa tahun kemudian setelah
terjadinya cedera. Kejang terjadi pada sekitar
10% penderita yang mengalami cedera kepala hebat tanpa adanya luka tembus di
kepala dan pada sekitar 40% penderita yang memiliki luka tembus di
kepala.Obat-obat anti-kejang (misalnya fenitoin, karbamazepin atau valproat)
biasanya dapat mengatasi kejang pasca trauma. Obat-obat tersebut sering
diberikan kepada seseorang yang mengalami cedera kepala yang serius, untuk
mencegah terjadinya kejang. Pengobatan ini seringkali berlanjut selama beberapa
tahun atau sampai waktu yang tak terhingga.
2.
Afasia
Afasia adalah hilangnya kemampuan untuk
menggunakan bahasa karena terjadinya cedera pada area bahasa di otak. Penderita
tidak mampu memahami atau mengekspresikan kata-kata. Bagian otak yang
mengendalikan fungsi bahasa adalah lobus temporalis sebelah kiri dan bagian
lobus frontalis di sebelahnya. Kerusakan pada bagian manapun dari area tersebut
karena stroke, tumor, cedera kepala atau infeksi, akan mempengaruhi beberapa
aspek dari fungsi bahasa.
3.
Apraksia
Apraksia adalah ketidakmampuan untuk melakukan
tugas yang memerlukan ingatan atau serangkaian gerakan. Kelainan ini jarang
terjadi dan biasanya disebabkan oleh kerusakan pada lobus parietalis atau lobus
frontalis. Pengobatan ditujukan kepada penyakit yang mendasarinya, yang telah
menyebabkan kelainan fungsi otak.
4.
Agnosis
Agnosia merupakan suatu kelainan dimana
penderita dapat melihat dan merasakan sebuah benda tetapi tidak dapat
menghubungkannya dengan peran atau fungsi normal dari benda tersebut. Penderita
tidak dapat mengenali wajah-wajah yang dulu dikenalnya dengan baik atau
benda-benda umum (misalnya sendok atau pensil), meskipun mereka dapat melihat
dan menggambarkan benda-benda tersebut. Penyebabnya
adalah kelainan fungsi pada lobus parietalis dan temporalis, dimana ingatan
akan benda-benda penting dan fungsinya disimpan. Agnosia seringkali terjadi
segera setelah terjadinya cedera kepala atau stroke. Tidak ada pengobatan
khusus, beberapa penderita mengalami perbaikan secara spontan.
5.
Amnesia
Amnesia adalah hilangnya sebagian atau seluruh
kemampuan untuk mengingat peristiwa yang baru saja terjadi atau peristiwa yang
sudah lama berlalu. Penyebabnya masih belum dapat sepenuhnya dimengerti. Cedera
pada otak bisa menyebabkan hilangnya ingatan akan peristiwa yang terjadi sesaat
sebelum terjadinya kecelakaan (amnesi retrograd) atau peristiwa yang
terjadi segera setelah terjadinya kecelakaan (amnesia pasca trauma).
Amnesia hanya berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam (tergantung
kepada beratnya cedera) dan akan menghilang dengan sendirinya. Pada cedera otak
yang hebat, amnesi bisa bersifat menetap.
Mekanisme otak untuk menerima informasi dan
mengingatnya kembali dari memori terutama terletak di dalam lobus oksipitalis,
lobus parietalis dan lobus temporalis. Amnesia menyeluruh sekejap merupakan
serangan lupa akan waktu, tempat dan orang, yang terjadi secara mendadak dan
berat. Serangan bisa hanya terjadi satu kali seumur hidup,
atau bisa juga berulang.
Alkoholik dan penderita
kekurangan gizi lainnya bisa mengalami amnesia yang disebut sindroma
Wernicke-Korsakoff. Sindroma ini terdiri dari kebingungan akut
(sejenis ensefalopati) dan amnesia yang berlangsung lama.Amnesia
Korsakoff terjadi bersamaan dengan ensefalopati Wernicke. Amnesia
Korsakoff juga bisa terjadi setelah cedera kepala yang hebat, cardiac
arrest atau ensefalitis akut.
6.
Fistel Karotis-kavernosus
Ditandai oleh trias gejala: eksoftalmus,
kemosis, dan bruit orbita, dapat timbul segera atau beberapa hari setelah
cedera.
Angiografi perlu dilakukan untuk konfirmasi
diagnosis dan terapi dengan oklusi balon endovaskuler untuk mencegah hilangnya
penglihatan yang permanent.
7.
Diabetes Insipidus
Disebabkan oleh kerusakan traumtik pada tangkai
hipofisis, menyebabkan penghentian sekresi hormone antidiuretik. Pasien
mengekskresikan sejumlah besar volume urin encer, menimbulkan hipernatremia dan
deplesi volum.
8.
Kejang pasca trauma
Dapat segera terjadi (dalam 24 jam pertama),
dini (minggu pertama) atau lanjut (setelah satu minggu). Kejang segera tidak
merupakan predisposisi untuk kejang lanjut; kejang dini menunjukkan risiko yang
meningkat untuk kejang lanjut, dan pasien ini harus dipertahankan dengan
antikonvulsan.
9.
Kebocoran cairan serebrospinal
Dapat disebabkan oleh rusaknya leptomeningen dan
terjadi pada 2-6 % pasien dengan cedera kepala tertutup. Kebocoran ini berhenti
spontan dengan elevasi kepala setelah beberapa hari pada 85 % pasien. Drainase
lumbal dapat mempercepat proses ini. Walaupun pasien ini memiliki risiko
meningitis yang meningkat, pemberian antibiotic profilaksis masih
controversial. Otorea atau rinorea cairan serebrospinal yang menetap atau meningitis
berulang merupakan indikasi untuk reparative.
10. Edema
serebral dan herniasi
Penyebab paling umum dari peningkatan
TIK, Puncak edema terjadi 72 Jam setelah cedera. Perubahan
TD, Frekuensi nadi, pernafasan tidak teratur merupakan gejala klinis adanya peningkatan
TIK. Penekanan dikranium dikompensasi oleh tertekannya venosus & cairan
otak bergeser. Peningkatan tekanan terus menerus menyebabkan aliran darah otak
menurun dan perfusi tidak adekuat, terjadi vasodilatasi dan edema otak.
Lama-lama terjadi pergeseran supratentorial dan menimbulkan herniasi.
Herniasi akan mendorong hemusfer otak kebawah / lateral dan menekan
di enchephalon dan batang otak, menekan pusat vasomotor, arteri otak posterior,
saraf oculomotor, jalur saraf corticospinal, serabut RES. Mekanisme kesadaran, TD,
nadi, respirasi dan pengatur akan gagal.
11. Defisit
Neurologis dan Psikologis
Tanda awal penurunan fungsi neulorogis:
Perubahan TK kesadaran, Nyeri kepala hebat, Mual / muntah proyektil
(tanda dari peningkatanTIK).
G.
Pemeriksaan
penunjang cedera kepala
1. CT-Scan (dengan atau
tanpa kontras) : Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan
ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk mengetahui adanya
infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
2. MRI :Digunakan sama
seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3. Cerebral
Angiography :Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan
jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.
4. Serial EEG :Dapat
melihat perkembangan gelombang yang patologis
5. X-Ray :Mendeteksi
perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur
garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
6. BAER : Mengoreksi
batas fungsi corteks dan otak kecil.
7. PET : Mendeteksi
perubahan aktivitas metabolisme otak.
8. CSF, Lumbal
Punksi : Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.
9. ABGs : Mendeteksi
keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi
peningkatan tekanan intracranial.
10. Kadar Elektrolit : Untuk
mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan
intrkranial.
11. Screen Toxicologi: Untuk
mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran.
H.
Penatalaksanaan
cedera kepala
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien
dengan trauma kepala adalah sebagai berikut:
1. Observasi 24 jam
2. Jika pasien masih muntah
sementara dipuasakan terlebih dahulu.
3. Berikan terapi intravena
bila ada indikasi.
4. Anak diistirahatkan atau
tirah baring.
5. Profilaksis diberikan
bila ada indikasi.
6. Pemberian obat-obat
untuk vaskulasisasi.
7. Pemberian obat-obat
analgetik.
8. Pembedahan bila ada
indikasi.

1.
Menilai
jalan napas : bersihkan jalan napas
dari debris dan muntahan, lepaskan gigi palsu, pertahankan tulang servikal
segaris dengan badan dengan memasang kolar servikal, pasang guedel bila dapat
ditolerir. Jika cedera orofasial mengganggu jalan napas,
maka pasien harus diintubasi.
2.
Menilai
pernapasan : tentukan apakah pasien
bernapas spontan atau tidak. Jika tidak, beri oksigen melalui masker oksigen.
Jika pasien bernapas spontan, selidiki dan atasi cedera dada berat seperti
pneumotoraks, pneumotoraks tensif, hemopneumotoraks. Pasang oksimeter nadi,
jika tersedia, dengan tujuan menjaga saturasi oksigen minimum 95 %. Jika jalan
napas pasien tidak terlindung bahkan terancam, maka pasien harus segera
diintubasi serta diventilasi oleh ahli anestersi.
3.
Menilai
sirkulasi : otak
yang rusak tidak mentolerir hipotensi. Hentikan semua perdarahan dengan menekan
arterinya. Perhatikan adanya cedera intraabdomen atau dada. Ukur dan catat
frekuensi denyut jantung dan tekanan darah, pasang alat pemantau dan EKG bila
tersedia.pasang jalur intravena yang bessar, ambil darah vena untuk pemeriksaan
darah perifer lengkap, ureum, elektrolit, glukosa, dan AGD arteri. Berikan larutan koloid.
4. Obati kejang: kejang konvulsif dapat
terjadi setelah cedera kepala dan harus diobati.
5. Menilai tingkat/
klasifikasi keparahan cedera.
v Pedoman Penatalaksanaan
1. Pada semua pasien dengan
cedera kepala dan/ atau leher, lakukan foto tulang belakang servikal (proyeksi
antero-posterior, lateral, dan odontoid).
2. pada
semua pasien dengan cedera kepala sedang dan berat, lakukan prosedur berikut:
ü pasang
jalur IV dengan larutan salin normal (NaCl 0.9 %) atau larutan Ringer Laktat:
cairan isotonis lebih efektif mengganti volume intravaskuler daripada cairan
hipotonis, dan larutan ini tidak menambah edema serebri.
ü Lakukan
pemeriksaan: hematokrit, periksa darah perifer lengkap, trombosit, kimia darah:
glukosa, ureum, dan kreatinin, masa protrombin atau masa tromboplastin parsial,
skrining toksikologi dan kadar alcohol bila perlu.
3. Lakukan
CT Scan dengan jendela tulang: foto roentgen kepal tidak perlu jika CT Scan
dilakukan, karena CT Scan ini lebih sensitive untuk mendeteksi fraktur. Pasien
denga cedera kepala ringan, sedang, atau berat harus dievaluasi adanya :
ü Hematoma epidural
ü Darah dalam subarakhnoid
dan interventrikel
ü Kontusio dan perdarahan
jaringan otak
ü Edema serebri
ü Obliterasi sisterna
perimesenfalik
ü Pergeseran garis tengah
ü Fraktur
kranium, cairan dalam sinus, dan pneumosefalus
4. Pada
pasien yang koma (Skor GCS < 8) atau pasien dengan tanda-tanda herniasi,
lakukan tindakan berikut ini:
ü Elevasi kepala 30°
ü Hiperventilasi: intubasi
dan berikan ventilasi mandatorik intermitten
ü Pasang kateter Foley.
ü Konsul bedah saraf bila
terdapat indikasi operasi (hematoma epidural yang besar, hematoma subdural,
cedera kepala terbuka, dan fraktur impresi >1 diploe)

1.
Cedera kepala ringan
Pasien dengan cedera kepala ini umumnya dapat dipulangkan ke rumah
tanpa perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan bila memenuhi criteria berikut:
ü Hasil
pemeriksaan neurologist dalam batas normal
ü Foto servikal jelas
normal
ü Adanya orang yang
bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam pertama, dengan
instruksi untuk segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala
perburukan
2.
Cedera kepala sedang
Pasien yang sedang
menderita konkusi otak, dengan GCS 15 dan CT Scan normal, tidak perlu dirawat.
Pasien ini dapat dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat nyeri
kepala, mual, muntah, pusing, atau amnesia. Risiko timbulnya lesi intracranial
lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal.
3.
Cedera kepala berat
Setelah penilaian awal dan stabilisasi tanda vital, keputusan
segera pada pasien ini apakah terdapat indikasi interval bedah saraf
segera. Jika ada indikasi, harus segera dikonsulkan
ke bedah saraf untuk tindakan operasi. Penatalaksanaan cedera kepala berat
seyogyanya dilakukan di unit rawat intensif. Walaupun sedikit sekali yang dapat
dilakukan untuk mengatasi kerusakan primer akibat cedera, tetapi setidaknya
dapat mengurangi kerusakan otak sekunder akibat hipoksia, hipotensi, atau
peningkatan TIK. Kejang umum yang terjadi setelah cedera kepala dapat
menyebabkan kerusakan otak sekunder karena hipoksia, sehingga terapi anti
konvulsan dapat dimulai.
v
Tindakan terhadap penalaksanaan peningkatan TIK
1.
Mempertahankan oksigenasi adekuat.
2.
Pemberian manitol untuk menurunkan edema serebral.
3.
Hiperventilasi
4.
Penggunaan steroid
5.
Meninggikan kepala tempat tidur
6.
Kemungkinan intervensi bedah neuro untuk evakuasi bekuan darah.
v
Tindakan pendukung lain
1.
Ventilasi
2.
Pencegahan kejang dengan antikonvulson
3.
Pemeliharaan cairan dan elektrolit
4.
Keseimbangan nutrisi
5. Mempertahankan jalan
nafas.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA
1.
PENGKAJIAN
Data fokus yang perlu
dikaji:
a.
Riwayat kesehatan
meliputi: keluhan utama, kapan cidera terjadi, penyebab cidera, riwayat tak
sadar, amnesia, riwayat kesehatan yang lalu, dan riwayat kesehatan keluarga.
b.
Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
2) Pemeriksaan persistem
a)
Sistem persepsi dan
sensori (pemeriksaan panca indera: penglihatan, pendengaran, penciuman,
pengecap, dan perasa)
b)
Sistem persarafan (tingkat
kesadaran/ nilai GCS, reflek bicara, pupil, orientasi waktu dan tempat)
c)
Sistem pernafasan (nilai
frekuensi nafas, kualitas, suara, dan kepatenan jalan nafas)
d)
Sistem kardiovaskuler
(nilai TD, nadi dan irama, kualitas, dan frekuensi)
e)
Sistem gastrointestinal
(nilai kemampuan menelan, nafsu makan/ minum, peristaltik, eliminasi)
f)
Sistem integumen ( nilai
warna, turgor, tekstur dari kulit, luka/ lesi)
g)
Sistem reproduksi
h)
Sistem perkemihan (nilai
frekuensi b.a.k, volume b.a.k)
c. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan (termasuk adakah
kebiasaan merokok, minum alcohol, dan penggunaan obat obatan)
2) Pola aktivitas dan latihan (adakah keluhan lemas, pusing,
kelelahan, dan kelemahan otot)
3) Pola nutrisi dan metabolisme (adakah keluhan mual, muntah)
4) Pola eliminasi
5) Pola tidur dan istirahat
6) Pola kognitif dan perceptual
7) Persepsi diri dan konsep diri
8) Pola toleransi dan koping stress
9) Pola seksual dan reproduktif
10) Pola hubungan dan peran
11) Pola nilai dan keyakinan
2.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa
keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan cidera kepala adalah sebagai
berikut:
1.
Perfusi jaringan tidak
efektif (spesifik serebral) berhubungan dengan aliran arteri dan atau vena
terputus.
2.
Nyeri akut berhubungan
dengan agen injury fisik.
3.
Hipertermi berhubungan
dengan trauma (cidera jaringan otak, kerusakan batang otak)
4.
Pola nafas tak efektif
berhubungan dengan hipoventilasi
5.
Kerusakan persepsi sensori
berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, afektif, dan motorik)
6.
Kerusakan mobilitas fisik
berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif.
7.
Defisit perawatan diri:
makan/ mandi, toileting berhubungan dengan kelemahan fisik dan nyeri.
8.
Kurang pengetahuan
berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif.
9.
Resiko aspirasi
berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.
10. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status
hipermetabolik.
11. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma/ laserasi kulit
kepala
12. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan mual, muntah.
13. PK: peningkatan TIK dengan proses desak ruang akibat penumpukan
cairan/ darah di dalam otak.
C.
RENCANA KEPERAWATAN
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
dan kriteria hasil
|
Intervensi
|
1
|
Perfusi
jaringan tak efektif (spesifik sere-bral) b.d aliran arteri dan atau vena
terputus, dengan batasan karak-teristik:
- Perubahan respon motorik
- Perubahan status
mental
- Perubahan respon pupil
- Amnesia retrograde
(gang-guan memori)
|
NOC:
1. Status sirkulasi
2. Perfusi jaringan serebral
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama ….x 24 jam, klien mampu men-capai :
1. Status
sirkulasi dengan indikator:
Tekanan darah sis-tolik
dan diastolik dalam rentang yang diharapkan
Tidak ada ortostatik hipotensi
Tidak ada tanda tan-da PTIK
2. Perfusi jaringan
serebral, dengan indicator :
Klien mampu berko-munikasi
dengan je-las dan sesuai ke-mampuan
Klien menunjukkan
perhatian,konsentrasi, dan orientasi
Klien mampu mem-proses
informasi
Klien mampu mem-buat keputusan
de-ngan benar
Tingkat kesadaran klien membaik
|
Monitor Tekanan Intra Kranial
1. Catat perubahan respon klien
terhadap stimu-lus / rangsangan
2. Monitor TIK klien dan respon
neurologis terhadap aktivitas
3. Monitor intake dan output
4. Pasang restrain, jika perlu
5. Monitor suhu dan angka
leukosit
6. Kaji adanya kaku kuduk
7. Kelola pemberian
antibiotik
8. Berikan posisi dengan
kepala elevasi 30-40O dengan
leher dalam posisi netral
9. Minimalkan stimulus dari
lingkungan
10. Beri
jarak antar tindakan keperawatan untuk meminimalkan peningkatan TIK
11. Kelola
obat obat untuk mempertahankan TIK dalam batas spesifik
Monitoring Neurologis (2620)
1. Monitor ukuran,
kesimetrisan, reaksi dan bentuk pupil
2. Monitor
tingkat kesadaran klien
3. Monitor
tanda-tanda vital
4. Monitor
keluhan nyeri kepala, mual, dan muntah
5. Monitor
respon klien terhadap pengobatan
6. Hindari
aktivitas jika TIK meningkat
7. Observasi
kondisi fisik klien
Terapi Oksigen (3320)
1. Bersihkan
jalan nafas dari secret
2. Pertahankan
jalan nafas tetap efektif
3. Berikan
oksigen sesuai instruksi
4. Monitor
aliran oksigen, kanul oksigen, dan humidifier
5. Beri
penjelasan kepada klien tentang pentingnya pemberian oksigen
6. Observasi
tanda-tanda hipoventilasi
7. Monitor
respon klien terhadap pemberian oksigen
8. Anjurkan
klien untuk tetap memakai oksigen selama aktivitas dan tidur
|
2
|
Nyeri akut b.d dengan agen injuri fisik, dengan batasan karakteristik:
- Laporan nyeri ke-pala
secara verbal atau non verbal
- Respon autonom
(perubahan vital sign,dilatasi pupil)
- Tingkah laku
eks-presif(gelisah,me-nangis, merintih)
- Fakta
dari observasi
- Gangguan tidur (mata sayu,
menye-ringai, dll)
|
NOC:
1. Nyeri
terkontrol
2. Tingkat
Nyeri
3. Tingkat
kenyamanan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …. x 24 jam, klien dapat :
1. Mengontrol
nyeri, de-ngan indikator:
- Mengenal faktor-faktor
penyebab
- Mengenal onset nyeri
- Tindakan pertolong-an non
farmakologi
- Menggunakan
anal-getik
- Melaporkan
gejala-gejala nyeri kepada tim kesehatan.
- Nyeri terkontrol
2. Menunjukkan tingkat nyeri, dengan indikator:
- Melaporkan nyeri
- Frekuensi nyeri
- Lamanya
episode nyeri
- Ekspresi
nyeri; wa-jah
- Perubahan respirasi rate
- Perubahan tekanan
darah
- Kehilangan
nafsu makan
3. Tingkat kenyamanan, dengan
indicator :
- Klien
melaporkan kebutuhan tidur dan istirahat tercukupi
|
Manajemen nyeri (1400)
1. Kaji keluhan nyeri, lokasi, karakteristik,
onset/durasi, frekuensi, kualitas, dan beratnya nyeri.
2. Observasi respon ketidaknyamanan secara verbal dan non
verbal.
3. Pastikan klien menerima perawatan analgetik dg tepat.
4. Gunakan strategi komunikasi yang efektif untuk
mengetahui respon penerimaan klien terhadap nyeri.
5. Evaluasi keefektifan penggunaan kontrol nyeri
6. Monitoring perubahan nyeri baik aktual maupun
potensial.
7. Sediakan lingkungan yang nyaman.
8. Kurangi faktor-faktor yang dapat menambah ungkapan
nyeri.
9. Ajarkan penggunaan tehnik relaksasi sebelum atau
sesudah nyeri berlangsung.
10. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memilih
tindakan selain obat untuk meringankan nyeri.
11. Tingkatkan istirahat yang adekuat untuk meringankan
nyeri.
Manajemen
pengobatan (2380)
1. Tentukan obat yang dibutuhkan klien dan cara mengelola
sesuai dengan anjuran/ dosis.
2. Monitor efek teraupetik dari pengobatan.
3. Monitor tanda, gejala dan efek samping obat.
4. Monitor interaksi obat.
5. Ajarkan pada klien / keluarga cara mengatasi efek
samping pengobatan.
6. Jelaskan manfaat pengobatan yg dapat mempengaruhi gaya
hidup klien.
Pengelolaan analgetik (2210)
1. Periksa perintah medis tentang obat, dosis &
frekuensi obat analgetik.
2. Periksa riwayat alergi klien.
3. Pilih obat berdasarkan tipe dan beratnya nyeri.
4. Pilih cara pemberian IV atau IM untuk pengobatan, jika
mungkin.
5. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
analgetik.
6. Kelola jadwal pemberian analgetik yang sesuai.
7. Evaluasi efektifitas dosis analgetik, observasi tanda
dan gejala efek samping, misal depresi pernafasan, mual dan muntah, mulut
kering, & konstipasi.
8. Kolaborasi dgn dokter untuk obat, dosis & cara
pemberian yg diindikasikan.
9. Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan
keparahan sebelum pengobatan.
10. Berikan obat dengan prinsip 5 benar
11. Dokumentasikan respon dari analgetik dan efek yang
tidak diinginkan
|
3
|
Defisit self care b.d dengan kelelahan, nyeri
|
NOC:
Perawatan diri :(mandi, Makan Toiletting, berpakaian)
Setelah diberi motivasi perawatan selama
….x24 jam, ps mengerti cara memenuhi ADL secara bertahap sesuai
kemam-puan, dengan kriteria :
Mengerti secara seder-hana cara mandi, makan, toileting, dan berpakaian
serta mau mencoba se-cara aman tanpa cemas
Klien mau berpartisipasi dengan senang hati tanpa keluhan dalam memenuhi
ADL
|
NIC: Membantu perawatan diri klien Mandi dan toiletting
Aktifitas:
1. Tempatkan alat-alat mandi di tempat yang mudah dikenali
dan mudah dijangkau klien
2. Libatkan
klien dan dampingi
3. Berikan bantuan selama klien masih mampu mengerjakan
sendiri
NIC: ADL Berpakaian
Aktifitas:
1. Informasikan
pada klien dalam memilih pakaian selama perawatan
2. Sediakan
pakaian di tempat yang mudah dijangkau
3. Bantu
berpakaian yang sesuai
4. Jaga
privcy klien
5. Berikan pakaian pribadi yg digemari dan sesuai
NIC: ADL Makan
1. Anjurkan duduk dan berdo’a bersama teman
2. Dampingi
saat makan
3. Bantu jika klien belum mampu dan beri contoh
4. Beri rasa nyaman saat makan
|
4
|
PK: peningkatan tekanan intrakranial b.d pro-ses desak ruang akibat
penumpukan cairan / darah di dalam otak (Carpenito, 1999)
Batasan karakteristik :
- Penurunan
kesadaran (gelisah, disori-entasi)
- Perubahan
motorik dan persepsi sensasi
- Perubahan
tanda vi-tal (TD meningkat, nadi kuat dan lambat)
- Pupil
melebar, re-flek pupil menurun
- Muntah
- Klien
mengeluh mual
- Klien
mengeluh pandangan kabur dan diplopia
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama ....x 24 jam dapat mencegah atau meminimalkan komplikasi dari
peningkatan TIK, dengan kriteria :
Kesadaran stabil (orien-asi baik)
Pupil isokor, diameter 1mm
Reflek baik
Tidak mual
Tidak muntah
|
1. Pantau tanda dan gejala peningkatan TIK
Kaji respon membuka mata, respon motorik, dan verbal,
(GCS)
Kaji perubahan tanda-tanda vital
Kaji respon pupil
Catat gejala dan tanda-tanda: muntah, sakit kepala,
lethargi, gelisah, nafas keras, gerakan tak bertujuan, perubahan mental
2. Tinggikan kepala 30-40O jika tidak ada kontra indikasi
3. Hindarkan situasi atau manuver sebagai berikut:
Masase karotis
Fleksi dan rotasi leher berlebihan
Stimulasi anal dengan jari, menahan nafas, dan mengejan
Perubahan posisi yang cepat
4. Ajarkan klien untuk ekspirasi selama perubahan posisi
5. Konsul dengan dokter untuk pemberian pe-lunak faeces,
jika perlu
6. Pertahankan lingkungan yang tenang
7. Hindarkan pelaksanaan urutan aktivitas yang dapat
meningkatkan TIK (misal: batuk, penghisapan, pengubahan posisi, meman-dikan)
8. Batasi waktu penghisapan pada tiap waktu hingga 10
detik
9. Hiperoksigenasi dan hiperventilasi klien se-belum dan
sesudah penghisapan
10. Konsultasi dengan dokter tentang pemberian lidokain
profilaktik sebelum penghisapan
11. Pertahankan ventilasi optimal melalui posisi yang
sesuai dan penghisapan yang teratur
12. Jika diindikasikan, lakukan protokol atau kolaborasi
dengan dokter untuk terapi obat yang mungkin termasuk sebagai berikut:
13. Sedasi, barbiturat (menurunkan laju meta-bolisme
serebral)
14. Antikonvulsan (mencegah kejang)
15. Diuretik osmotik (menurunkan edema serebral)
16. Diuretik non osmotik (mengurangi edema serebral)
17. Steroid (menurunkan permeabilitas kapiler, membatasi
edema serebral)
18. Pantau status hidrasi, evaluasi cairan masuk dan
keluar)
|
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Cedera
kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak
atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung
pada kepala.
Kerusakan
pada lapisan otak paling atas (korteks serebri biasanya akan mempengaruhi
kemampuan berfikir, emosi dan perilaku seseorang. Daerah tertentu pada korteks
serebri biasanya bertanggungjawab atas perilaku tertentu, lokasi yang pasti dan
beratnya cedera menentukan jenis kelainan yang terjadi.
Manifestasi Klinis yang ditemukan adalah
gangguan kesadaran, konfusi, perubahan TTV, sakit kepala, vertigo, kejang,
pucat, mual dan muntah, pusing kepala, terdapat hematoma, dan lain-lain.
Diagnosa
keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan cidera kepala adalah sebagai
berikut:
1.
Perfusi jaringan tidak
efektif (spesifik serebral) berhubungan dengan aliran arteri dan atau vena
terputus.
2.
Nyeri akut berhubungan
dengan agen injury fisik.
3.
Hipertermi berhubungan
dengan trauma (cidera jaringan otak, kerusakan batang otak)
4.
Pola nafas tak efektif
berhubungan dengan hipoventilasi
5.
Kerusakan persepsi sensori
berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, afektif, dan motorik)
6.
Kerusakan mobilitas fisik
berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif.
7.
Defisit perawatan diri:
makan/ mandi, toileting berhubungan dengan kelemahan fisik dan nyeri.
8.
Kurang pengetahuan
berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif.
9.
Resiko aspirasi
berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.
10. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status
hipermetabolik.
11. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma/ laserasi kulit
kepala
12. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan mual, muntah.
13. PK: peningkatan TIK dengan proses desak ruang akibat penumpukan
cairan/ darah di dalam otak.
B.
Saran
Penanganan pada klien
dengan cedera kepala sangat ditekankan agar tidak terjadi kerusakan otak
sekunder. Dalam hal ini perawat harus bertindak dengan cepat dan tepat
sesuai dengan standar asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Volume II. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan dan Masalah Kolaborasi. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan.
Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hudak dan Gallo. 1996. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Volume II. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Marion Johnson, dkk. 2000. Nursing Outcomes
Classification (NOC) Second Edition. Mosby.
Mc. Closkey dan Buleccheck. 2000. Nursing Interventions
Classification (NIC) Second Edition. Mosby.
NANDA. 2005. Nursing Diagnosis: Definition and Classification. Philadelphia: North American Nursing Diagnosis Association.
Lucky Club Online Casino UK | Lucky Club
BalasHapusLucky Club offers the best in online casino games luckyclub.live for you to play, and we do it all in one place. Join today to claim your welcome bonus and start playing.
Casino Del Sol, CA - Mapyro
BalasHapusCasino Del Sol is 순천 출장마사지 a Native American Casino located in Del 영주 출장안마 Mar, CA. The 안동 출장안마 property is owned by the Viejas Tribe of Indians 안동 출장샵 of Puerto Rico. 경상남도 출장마사지